Putussibau: Ibu Kota Kapuas Hulu di Jantung Kalimantan

putussibau

TL;DR

Putussibau adalah ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang berdiri sejak 1 Juni 1895 di hulu Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Kota ini berbatasan langsung dengan Malaysia, bisa dicapai dari Pontianak sekitar 1 jam via penerbangan Wings Air ke Bandara Pangsuma, atau 12–15 jam melalui jalur darat. Lebih dari separuh wilayah Kapuas Hulu adalah kawasan konservasi, termasuk Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, menjadikan Putussibau sebagai pintu masuk utama untuk ekowisata jantung Kalimantan.

Putussibau bukan kota yang besar. Penduduknya sekitar 23.000 jiwa, tidak ada mal, dan transportasi umum di dalam kota hampir tidak ada. Tapi kota ini menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki banyak kota lain: posisi geografis yang menempatkannya di tepian dua taman nasional terbesar di Kalimantan Barat, di persimpangan budaya Dayak yang masih hidup, sekaligus di tapal batas negara dengan Malaysia.

Bagi sebagian orang, Putussibau adalah tujuan akhir perjalanan. Bagi yang lain, ini titik awal untuk masuk ke pedalaman Borneo yang sesungguhnya.

Dari Mana Nama Putussibau Berasal

Nama kota ini berasal dari dua kata: “putus” dan “Sibau”. Sibau adalah nama sungai kecil yang bermuara ke Sungai Kapuas persis di titik di mana kota ini berdiri. Dalam bahasa setempat, “putus” berarti memutus atau berakhir, merujuk pada pertemuan arus kedua sungai itu. Jadi secara harfiah, Putussibau berarti tempat di mana Sungai Sibau bertemu dan “berakhir” ke Kapuas.

Kota ini secara resmi berdiri pada 1 Juni 1895, ditetapkan berdasarkan Piagam Kesepakatan Seminar Hari Jadi Kota Putussibau yang digelar pada Februari 2005. Tanggal itu merujuk ke masa wilayah ini masih dikenal sebagai De Demang van Poetoessibaoe di bawah administrasi Hindia Belanda.

Posisi Putussibau di Peta Kalimantan Barat

Putussibau adalah ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, kabupaten paling timur di Provinsi Kalimantan Barat. Letaknya sekitar 814 km dari Pontianak melalui darat, atau 846 km jika ditempuh lewat jalur sungai. Dari sisi luas, Kabupaten Kapuas Hulu mencakup 31.225,50 km², sekitar 21% dari total luas Kalimantan Barat, dan lebih dari 56% wilayahnya berstatus kawasan konservasi.

Sisi utara kabupaten berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Ini bukan sekadar fakta administratif: batas negara itu membentuk karakter Putussibau sebagai kota perbatasan, dengan lalu lintas barang dan pergerakan warga yang berbeda dari kota-kota pedalaman lainnya di Kalimantan.

Kota ini juga berdiri di hulu Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia itu membentang 1.143 km dari ujung utara di Putussibau hingga muaranya di Pontianak. Di tepi sungai inilah kehidupan kota berlangsung, dari aktivitas perdagangan, rumah-rumah adat berbagai suku, hingga pemandangan senja yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Baca juga: KUD Putussibau: Koperasi Unit Desa Putussibau

Cara Menuju Putussibau

Ada tiga jalur untuk sampai ke Putussibau: udara, darat, dan sungai. Masing-masing punya konsekuensi waktu dan kenyamanan yang berbeda.

Jalur Udara: Paling Cepat dan Paling Umum

Bandara Pangsuma (kode IATA: PSU) terletak sekitar 6 km dari pusat kota Putussibau. Satu-satunya rute yang aktif saat ini adalah Pontianak–Putussibau–Pontianak yang dilayani Wings Air dengan pesawat jenis ATR, dengan frekuensi 4 kali seminggu. Waktu tempuh sekitar 1 jam 10 menit. Sebelum pandemi, rute ini juga dilayani Nam Air dan Citilink, namun keduanya belum kembali beroperasi.

Satu hal yang perlu dicatat: penerbangan dari Pontianak biasanya berangkat siang hari, bukan pagi. Jadwal ini sering mengejutkan pelancong yang berencana tiba lebih awal. Selalu cek jadwal terbaru sebelum memesan akomodasi di hari pertama.

Terminal penumpang baru Bandara Pangsuma selesai dibangun pada 2025 dengan anggaran Rp47 miliar dari APBN Kementerian Perhubungan, mengusung konsep arsitektur kearifan lokal Kapuas Hulu.

Jalur Darat: Panjang tapi Bisa Ditempuh

Perjalanan darat dari Pontianak ke Putussibau bisa memakan 12–15 jam, tergantung kondisi jalan dan kendaraan. Tersedia bus dan taksi antar kota, meski mayoritas wisatawan memilih jalur udara karena selisih waktu yang signifikan. Kondisi jalan menuju Kapuas Hulu saat ini sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.

Jalur Sungai: Sudah Jarang Dipakai Penumpang

Transportasi sungai dari Pontianak masih ada, tapi saat ini lebih banyak digunakan untuk angkutan ekspedisi barang, bukan penumpang. Perjalanan via sungai Kapuas bisa memakan waktu berhari-hari.

Dua Taman Nasional yang Membuat Putussibau Unik

Putussibau adalah satu-satunya kota di Indonesia yang menjadi pintu masuk ke dua taman nasional besar sekaligus: Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Sejak 2016, keduanya dikelola di bawah satu unit pengelola: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS).

Taman Nasional Betung Kerihun

TNBK adalah kawasan konservasi terbesar di Kalimantan Barat, dengan luas 816.693 hektare. Kawasan ini mencakup hulu Sungai Kapuas dan berbatasan dengan Malaysia di sebelah utara. Di dalamnya hidup 7 jenis primata termasuk orangutan, lebih dari 300 jenis burung, dan puluhan jenis mamalia yang sebagian masih dalam kajian ilmiah. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung wajib menggunakan pemandu wisata lokal.

Salah satu aktivitas yang kini mulai dikembangkan adalah wisata arung jeram di Sub-DAS Mendalam, Desa Datah Dian, sekitar 2 jam dari Putussibau. Pengelolaan dilakukan oleh kelompok sadar wisata setempat yang sudah mengantongi izin resmi dan memiliki instruktur bersertifikat BNSP.

Taman Nasional Danau Sentarum

Danau Sentarum seluas 132.000 hektare punya karakter yang tidak biasa: bentuknya berubah sesuai musim. Di musim hujan, kawasan ini menjadi danau tadah hujan yang dalam. Di musim kemarau, sebagian areanya mengering menjadi padang. Air danau berwarna hitam kemerahan karena kandungan tanin dari daun dan kayu yang membusuk di hutan gambut sekitarnya. Danau ini menjadi habitat bagi 275 jenis ikan air tawar, 311 jenis burung, dan 147 jenis mamalia.

Baca juga: Unit Usaha KUD Putussibau

Budaya Dayak yang Masih Hidup di Putussibau

Kapuas Hulu adalah rumah bagi 22 sub-suku Dayak, di antaranya Dayak Kayan, Iban, Taman Kapuas, Tamambaloh, Kantuk, Punan, dan Bukat. Di kota Putussibau sendiri, suku Dayak dan Melayu adalah dua kelompok mayoritas, hidup berdampingan dengan komunitas Tionghoa yang sudah lama menetap di sini.

Salah satu daya tarik budaya yang paling dikenal dari kawasan ini adalah Desa Sungai Utik di Kecamatan Embaloh Hulu, sekitar 75 km dari Putussibau. Komunitas Dayak Iban di sana mendiami rumah panjang tradisional sejak 1972 dan konsisten menjaga hutan adat mereka. Perjuangan itu berbuah penghargaan Equator Prize dari UNDP pada September 2019, yang diterima langsung di New York, dan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup di tahun yang sama.

Setiap tahun, kota Putussibau juga menjadi pusat penyelenggaraan Pekan Gawai Dayak, festival syukur panen yang menampilkan tarian, seni, pertandingan menyumpit, dan pemilihan bujang-dara gawai. Acara ini digelar di GOR Uncak Kapuas dan menjadi salah satu momen terbaik untuk menyaksikan kebudayaan Dayak dalam bentuk yang hidup, bukan sekadar replika.

Kuliner Khas yang Perlu Dicoba di Putussibau

Kuliner paling ikonik dari Kapuas Hulu adalah kerupuk basah, yang di sini dikenal dengan nama temet. Ini bukan kerupuk yang digoreng kering, melainkan adonan ikan, tepung, dan bumbu khas yang dikukus, bertekstur kenyal dengan rasa gurih dan ada lemak ikan di bagian tengahnya. Warung-warung penjual temet mudah ditemukan di sekitar pusat kota Putussibau.

Selain temet, ada madu hutan asli dan ikan salai lais, sejenis ikan sungai yang diasapi dan bisa dijadikan oleh-oleh tahan lama. Bagi yang ingin mendalami kuliner Dayak lebih jauh, beberapa rumah betang menawarkan pengalaman mencicipi masakan tradisional seperti Mandung dari Dayak Taman atau Dange dari Dayak Kayan Mendalam.

Kondisi Akomodasi dan Transportasi Lokal di Putussibau

Hotel dan penginapan di Putussibau cukup tersedia dengan harga yang proporsional. Tidak ada angkutan umum di dalam kota, jadi untuk mobilisasi ke tempat wisata di luar kota, pengunjung perlu menyewa kendaraan atau menggunakan jasa travel lokal. Ojek daring juga sudah beroperasi di pusat kota untuk perpindahan jarak pendek.

Yang perlu diingat: jarak antar destinasi di Kapuas Hulu bisa sangat jauh. Danau Sentarum misalnya, tidak bisa dicapai dalam satu hari dari Putussibau untuk pergi-pulang santai. Merencanakan itinerary dengan waktu yang cukup longgar adalah keputusan yang selalu tepat di sini.

Putussibau mungkin bukan kota yang mudah dijangkau. Tapi justru itu yang membuatnya menarik: kota di ujung timur Kalimantan Barat ini menawarkan hutan yang benar-benar belum terjamah, budaya yang benar-benar masih hidup, dan pengalaman yang tidak bisa direplikasi di tempat lain. Untuk yang sudah sampai di sini, sebagian besar merasa perjalanannya sepadan.

Scroll to Top